Bahasa Indonesia   English 
Depan  •  Tentang Labsosio  •  Berita  •  Diskusi dan Seminar  •  Anggota  •  Galeri  •  Link
Aktivitas
Research Cluster
Penelitian
Pelatihan
Publikasi
Pusat Data Sosial
Perpustakaan
Pengabdian Masyarakat
Jaringan dan Kerjasama
Organisasi & Mitra
 
Pencarian Lanjut
 
Bergabung dengan Newsletter LabSosio, Masukkan alamat email anda!
Subscribe Unsubscribe
 
Link Selengkapnya!
Tugas Akhir Akademik Mahasiswa
Ahmad Abrori S-2
Perilaku Politik Jawara Banten dalam Proses Politik di Banten
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan pada peran jawara di Banten sebagai elemen sosial yang nampak mempnnyai pengaruh kuat di Banten dan seringkali mengambil sikap yang mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah daerah maupun pusat. Beberapa penelitian sebelumnya mengenai Banten dan Jawara, seperti Kartodirdjo (1984), Hamid (1987), dan Tihami (1992) memperlihatkan bahwa jawara memang sudah lama menjadi elemen sosial yang berpengaruh karena tidak sedikit diantara mereka yang menjadi pemimpin masyarakat untuk bidang ekonomi, bidang politik (birokrasi) atau bidang agama. Sebagai pemimpin masyarakat atau elit sosial, jawara juga mendapat dukungan anak buah jawara yang hampir tersebar di seluruh wilayah Banten.

Keberadaannya sebagai elit sosial yang berpengaruh dan cenderung mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah pusat maupun daerah, memperlihatkan bahwa jawara adalah orang-orang yang ikut. serta berpartisipasi politik. Dalam hal ini, akan diteliti bagaimana perilaku politik jawara dalam proses politik yang terjadi di Banten. Kemudian dipilihlah sebuah organisasi jawara yang bemama Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten Indonesia (PPPSBBI) yang sekretariat pusatnya terdapat di Serang. Dipilihnya organisasi tersebut mengingat para jawara yang akan . dijadikan informan sesuai dengan konsep yang telah dibuat, tidak menetap pada suatu desa tertentu tetapi menyebar di beberapa desa atau kecamatan. Selain itu, Serang merupakan Ibukota Propinsi Banten dimana suhu politik cukup tinggi bila dibandingkan dengan beberapa daerah lain.

Pada kasus jawara, perilaku politik mereka difokuskan pada budaya politik (pengetahuan, keyakinan dan sistem nilai yang mereka anut) dan kepemimpinan jawara. Untuk meneliti budaya politiknya, digunakan teori yang dibuat oleh Almond dan Verba. Untuk meneliti tentang kepemimpinannya, digunakan penjelasan kekuasaan oleh Weber, Parsons, Lassweli dan Mills.

Dari hasil kajian beradasarkan data yang diperoleh, pola perilaku politik jawara termasuk kepada pola perilaku pragmatis. Perilaku inilah yang mendorong para jawara untuk cenderung mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah.

Perilaku ini berkaitan dengan pengetahuan dan keyakinan mereka bahwa pemimpin (termasuk pemimpin pemerintahan eksekutif dan legislatif) itu harus dihormati. Mereka yakin pemimpin tersebut sah secara hukum karena terpilih melalui pemilihan umum. Cafa ini dipercaya oleh mereka sebagai bentuk demokrasi.

Namun, alih-alih berjuang untuk negara dengan doktrin "bela diri bela bangsa bela negara", perilaku politik mereka tidak lepas dari kepentingan ekonomi. Ini terlihat dari makna bela diri yang difahami sebagai "jihad untuk mengejar kepentingan materi". Dengan demikian nilai (value) yang mereka kejar sebenamya adalah kepentingan ekonomi.

Untuk kepentingan ekonomi itu, mereka berusaha mempertahankan legitimasi kepemimpinan mereka yang diperoleh dari budaya lokal. Karena sumber legitimasi kepemimpinannya berasal dari budaya lokal, maka tipe kepemimpinan mereka bisa digolongkan kepada tipe otoritas tradisional.

rengejaran nilai eknomi dan adanya otoritas tradisionalnya itu menjadi semakin kuat karena mereka mampu menguasai lembaga-lembaga strategis di bidang ekonomi dan politik, seperti Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Daerah, Kadin Daerah dan lain sebagainya (ekonomi) dan wakil gubernur, walikota, lurah (politik), serta beberapa organisasi kepentingan lainnya. Dengan penguasaan tersebut perilaku politik jawara akhirnya mendapat legitimasi struktural.

Sementara itu, mereka pun kuat secara internal karena mcndapatkan dukungan dari anak bualmya yang mudah dimobiiisasi. Pola hubungan mereka yang bersifat patrimonial menjadikan anak buah terikat dengan pemimpin jawara.

Jawara pun berusaha menjalin hubungan baik dengan e!it-elit lain, seperti birokrat, partai dan militer. Hubungan ini bersifat simhiosis yang sangat menekankan keuntungan bagi masing-masing pihak. Mereka menyebut elit-elit tersebut sebagai "mitra".

Dengan budaya politik, otoritas tradisional, penguasaan pada lembaga-lembaga strategis, legitimasi struktural, patrimonialisme pemimpin, dan hubungan simbiosis dengan elit lain, kekuasaan jawara adalah sangat kuat untuk konteks politik lokal. Dengan kekuasaannya itu, mereka berusaha mengontrol terhadap lembaga-lembaga yang dikuasainya, terhadap lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang bersebrangan dengannya dan terhadap kelompok-kelompok kritis.

Kekuasaan yang dipegang oleh segelintir jawara dengan jaminan kekuatan fisik (magi dan persilatan) dan kemampuan ekonomi, mereka sebenamya menerapkan sisteni pemerintahan oligarki. Sistcm ini semakin lumbuh subur karena selain mendapat dukungan dari mitra-mitranya juga karena pola interaksi yang mereka kembangkan adalah model patrimonial dimana ketua jawara diakui sebagai patronnya.? Dengan? model ini,? upaya? control? (pengawasan)? terhadap? lembaga-

lembaga bersebrangan dan kelompok-kelompok kritis menjadi sangat efektif karena para jawara, dengan partisipasi bentuk kaula-partisipan, mudah untuk memobilisasi massa yang raereka miliki.

Dengan sistem pemerintahan yang menganut sistem oligarki dan kondisi Banten yang demikian, maka perkembangan demokrasi dan civil society di Banten menjadi persoalan yang sangat serius. Pada tingkat lertentu, proses yang berlangsung malah terjadinya decivilasi yang membuat masyarakat Banten tidak berdaya, tidak mandiri, lak tercerahkan, dan dikuasai oleh kelakutan menyuarakan hak individunya.
Tugas Akhir Lainnya
Negara dalam Penyelenggaraan Pemilu (Studi pada KPU tahun 1999)
Teh dalam Konteks Lokal (Studi Budaya, Ekonomi dan Politik Global)
Anak Jalanan pun Punya Waktu Luang (Studi Tentang leisure Pada Anak Jalanan di Jakarta)
Pengaruh Tingkat Peran Guru Terhadap Kecenderungan Sikap Siswa Pada Peraturan Disiplinan Sekolah
Hyperreality atas Hak Perempuan dalam Film Indonesia, Studi Analisa Wacana Kritis Terhadap Film Arisan dan Pasir Berbisik
Politisasi Identitas Keindonesiaan dalam dunia pendidikan era reformasi
Anda dapat download file jika anda telah menjadi anggota
User ID :
Password :
Daftar!  |  Lupa Password
 
Jurnal Sosiologi MASYARAKAT
Praktik Demokrasi dalam Masyarakat
Edisi  :  Vol. XIII, No. 1 Jun 2006
Pembangunan Sosial dan Lingkungan
Edisi  :  Vol. XIII, No. 2 Des 2006
Konflik dalam Masyarakat Transisi
Edisi  :  No. 13 Thn 2004
Working Paper & Monografi
Meuthia Ganie Rochman
Hanneman Samuel
Buku
Andi Rahman Alamsyah
Erna E. Chotim & Siti Aminah
Meuthia Ganie-Rochman
Sociological Outlook
LabSosio Universitas Indonesia
Tugas Akhir Akademik Mahasiswa
Feminitas Perempuan Indonesia pada Era kebebasan Pers
Widjajanti M Santoso S-3
Ahmad Abrori S-2
Juri Ardiantoro S-2
 
Copyright © 2002 -2008, Labsosio, All Rights Reserved
Gedung C. Lt.3. FISIP Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia. Tel. +62 21 7863427 Fax. +62 21 7870612 E-mail: labsosio@ui.edu